Software Maintability

Konversi system merupakan tahapan yang digunakan untuk mengoperasikan IT dalam rangka menggantikan sistem yang lama atau proses pengubahan dari system lama ke sistem baru. Derajad kesulitan dan kompleksitas dalam pengkonversian dari system lama ke sistem baru tergantung pada sejumlah faktor. Jika sistem baru merupakan paket perangkat lunak terbungkus (canned) yang akan berjalan pada komputernya yang baru, maka konversi akan relatif lebih mudah. Jika Konversi memanfaatkan perangkat lunak terkustomisasi baru, database baru, perangkat komputer dan perangkat lunak kendaii baru, jaringan baru dan perubahan drastis dalam prosedumya, maka konversi menjadi agak sulit dan menantang.

Ada empat metode konversi sistem, yaitu :

Konversi Langsung (Direct Conversion)

Konversi ini dilakukan dengan cara menghentikan sistem lama dan menggantikannya dengan sistem baru. Cara ini merupakan yang paling berisiko, tetapi murah. Konversi langsung adalah pengimplementasian sistem baru dan pemutusan jembatan sistem lama, yang kadang-kadang disebut pendekatan cold turì<ey. Apabila konversi telah dilakukan, maka tak ada cara untuk balik ke sistem lama.

Pendekatan atau cara  konversi ini akan bermanfaat apabila :

  1. Sistem tersebut tidak mengganti sistem lain.
  2. Sistem yang lama sepenuhnya tidak bernilai.
  3. Sistem yang barn bersifat kecil atau sederhana atau keduanya.
  4. Rancangan sistem baru sangat berbeda dari sistem lama, dan perbandingan antara sistem – sistem tersebut tidak berarti.

Kelebihan :

Relatif tidak mahal.

Kelemahan :

Mempunyai risiko kegagalan yang tinggi.

Apabila konversi langsung akan digunakan, aktivitas-aktivitas pengujian dan pelatihan yang dibahas sebelumnya akan mengambil peran yang sangat penting.

Gambar 1. Konversi Langsung

Konversi Paralel (Parallel Conversion)

Pada konversi ini, sistem baru dan sistem lama sama-sama dijalankan. Setelah melalui masa tertentu, jika sistem baru telah bisa diterima untuk menggantikan sistem lama, maka sistem lama segera dihentikan. Cara seperti ini merupakan pendekatan yang paling aman, tetapi merupakan cara yang paling mahal, karena pemakai harus menjalankan dua system sekaligus. Konversi Paralel adalah suatu pendekatan dimana baik sistem lama dan baru beroperasi secara serentak untuk beberapa période waktu dan kebalikan dari konversi langsung. Dalam mode konversi paralel, output dari masing-masing system tersebut dibandingkan, dan perbedaannya direkonsiliasi.

Kelebihan :

Memberikan derajad proteksi yang tinggi kepada organisasi dari kegagalan sistem baru.

Kelemahan :

Besarnya biaya untuk penduplikasian fasilitas-fasilitas dan biaya personel yang memelihara sistem rangkap tersebut.

Ketika proses konversi suatu sistem baru melibatkan operasi paralel, maka orang-orang pengembangan sistem harus merencanakan untuk melakukan peninjauan berkala dengan personel operasi dan pemakai.

Gambar 2. Konversi Paralel

Konversi Bertahap (Phase-In Conversion)

Konversi ditakukan dengan menggantikan suatu bagian dari system lama dengan sistem baru. Jika terjadi sesuatu, bagian yang baru tersebut akan diganti kembali dengan yang lama. Jika tak terjadi masalah, modul-modul baru akan dipasangkan lagi untuk mengganti modul-modul lama yang lain. Dengan pendekatan seperti ini, akhirnya semua sistem lama akan tergantikan oleh sistem baru. Cara seperti ini lebih aman daripada konversi langsung. Dengan metode Konversi Phase-in, sistem baru diimplementasikan

beberapa kali, yang secara sedikit demi sedikit mengganti yang lama. la menghindarkan dari risiko yang ditimbulkan oleh konversi langsung dan memberikan waktu yang banyak kepada pemakai untuk mengasimilasi perubahan. Untuk menggunakan metode phase-in, sistem harus disegmentasi.

Kelebihan :

Kecepatan perubahan dalam organisasi tertentu bisa diminimasi, dan sumber-sumber pemrosesan data dapat diperoleh sedikit demi sedikit selama période waktu yang luas.

Kelemahan :

Keperluan biaya yang harus diadakan untuk mengembangkan interface temporer dengan sistem lama, daya terapnya terbatas, dan terjadi kemunduran semangat di organisasi, sebab orang-orang tidak pernah merasa menyelesaikan sistem.

Gambar 3. Konversi Bertahap

  • Sistem baru diimplementasi beberapa kali, sedikit demi sedikit untuk menggantikan sistem yang lama
  • Sistem harus disegmentasi
  • Perlu biaya tambahan untuk mengembangkan interface temporer dengan sistem lama.
  • Daya terapnya terbatas, proses implementasi membutuhkan waktu yang panjang

Konversi Pilot (Pilot Conversion)

Pendekatan ini dilakukan dengan cara menerapkan sistem baru hanya pada lokasi tertentu yang diperlakukan sebagai pelopor. Jika konversi ini dianggap berhasil, maka akan diperluas ke tempat-tempat yang lain. Ini merupakan pendekatan dengan biaya dan risiko yang rendah. Dengan metode Konversi Pilot, hanya sebagian dari organisasilah yang mencoba mengembangkan sistem baru. Kalau metode phase-in mensegmentasi sistem, sedangkan metode pilot mensegmentasi organisasi.

METODE UNTUK MENGKONVERSI FILE DATA YANG ADA

Keberhasilan konversi sistem sangat tergantung pada seberapa jauh profesional sistem menyiapkan penciptaan dan pengkonversian file data yang diperlukan untuk sistem baru. Dengan mengkorversi suatu file, maksudnya adalah bahwa file yang telah ada {existing) harus dimodifikasi setidaknya dalam :

■ Format file tersebut

■ Isi file tersebut

■ Media penyimpanan dimana file ditempatkan

Dalam suatu konversi sistem, kemungkinan beberapa file bisa

mengalami ketiga aspek konversi tersebut secara serentak.

Gambar 4. Konversi Pilot (Pilot Conversion)

  • Perlunya segmentasi organisasi.
  • Resiko lebih rendah dibandingkan metode konversi langsung.
  • Biaya lebih rendah dibandingkan metode parallel.
  • Cocok digunakan apabila adanya perubahan prosedur, H/W dan S/W.

Ada dua metode dasar yang bisa digunakan untuk menjalankan konversi file :

Konversi File Total dapat digunakan bersama dengan semua metode konversi file sistem di atas.

Konversi File Gradual (sedikit demi sedikit) terutama digunakan dengan metode paralel dan phase-in. Dalam beberapa contoh, ia akan bekerja untuk metode pilot. Umumnya konversi file gradual tidak bisa diterapkan untuk konversi sistem langsung.

Konversi File Total

Jika file sistem baru dan file sistem lama berada pada media yang bisa dibaca komputer, maka bisa dituliskan program sederhana untuk mengkonversi file dari format lama ke format baru. Umumnya pengkonversian dari satu sistem komputer ke sistem yang lain akan melibatkan tugas-tugas yang tidak bisa dikerjakan secara otomatis. Rancangan file baru hampir selalu mempunyai field-field record tambahan, struktur pengkodean baru, dan cara baru perelasian item- item data (misalnya, file-file relasional). Seringkali, selama konversi file, kita perlu mengkonstruksi prosedur kendali yang rinci untuk memastikan integritas data yang bisa digunakan setelah konversi itu. Dengan menggunakan klasifikasi file berikut, perlu diperhatikan jenis prosedur kendali yang digunakan selama konversi:

File Master

Ini adalah file utama dalam database. Biasanya paling sedikit satu file master diciptakan atau dikonversi dalam setiap konversi sistem.

File Transaksi

File ini selalu diciptakan dengan memproses suatu sub- system individual di dalam sistem informasi. Akibatnya, ia harus dicek secara seksama selama pengujian sistem informasi.

File Indeks

File ini berisi kunci atau aiamat yang menghubungkan berbagai file master. File indeks baru hams diciptakan kapan saja file master yang berhubungan dengannya mengalami konversi.

File Tabel

File ini dapat juga diciptakan dan dikonversi seiama konversi sistem. File tabel bisa juga diciptakan untuk mendukung pengujian perangkat lunak.

File Backup

Kegunaan file backup adalah untuk memberikan keamanan bagi database apabila terjadi kesalahan pemrosesan atau kerusakan dalam pusat data. Oleh karenanya, ketika suatu file dikonversi atau diciptakan, file backup harus diciptakan.

Konversi File Gradual

Beberapa perusahaan mengkonversi file-file data mereka secara gradual (sedikit demi sedikit). Record-record akan dikonversi hanya ketika mereka menunjukkan beberapa aktivitas transaksi. Record-record lama yang tidak menunjukkan aktivitas tidak pernah dikonversi. Metode ini bekerja dengan cara berikut :

1. Suatu transaksi diterima dan dimasukkan ke dalam sistem.

2. Program mencari file master baru (misalnya file inventarisasi atau file account receivable) untuk record yang tepat yang akan di update oleh transaksi itu. Jika record tersebut telah siap dikonversi, berarti peng-update-an record telah selesai.

3. Jika record tersebut tidak ditemukan dalam file master baru, file master lama diakses untuk record yang tepat, dan ditambahkan ke file master baru dan di update.

4. Jika transaksi tersebut adalah record baru, yakni record yang tidak dijumpai pada file lama maupun file baru (misalnya, pelanggan baru), maka record baru disiapkan dan ditambahkan ke file master baru.

Mengconversi File Data

“Keberhasilan konfersi sistem sangat tergantung pada seberapa jauh profesional sistem menyiapkan pengkonversian file data yang diperlukan untuk sistem baru”

Konversi/Modifikasi meliputi :

  • Format File.
  • Isi File.
  • Media Penyimpanan.

Metode Dasar Konversi File :

  • Konversi File Total à dapat digunakan pada ke 4 metode konversi system.
  • Konversi File Gradual à terutama digunakan pada metode paralel dan phase-in.

Konfersi file Gradual :

  • Selama konversi file perlu diperhatikan prosedur kendali untuk memastikan integrasi data.
  • Prosedur kendali untuk masing-masing klasifikasi file berbeda.

Klasifikasi File :

  1. File Master
  2. File Transaksi
  3. File Index
  4. File tabel
  5. File backup
  • Suatu Transaksi diterima dan dimasukan ke dalam sistem
  • Program mencari file master baru untuk record yang akan diupdate oleh transaksi tsb, jika record tersebut ada maka pengupdatetan record selesai.
  • Jika record tidak ditemukan dalam file master baru, file master lama diakses untuk record yang tepat dan ditambahkan pada file master baru dan diupdate.
  • Jika Transaksi untuk record baru, record baru disiapkan dan ditambahkan ke file master baru.

Tahap akhir dalam siklus pengembangan system yaitu melibatkan pengintegrasian semua komponen rancangan sistem => termasuk Perangkat Lunak, pengkonversian sistem total ke operasi.

Rencana Implementasi

Adalah formulasi rinci dan representasi grafik mengenai cara pencapaian implementasi sistem yang akan dilaksanakan (Tergantung pada Kompleksitas proyek).

Team Implementasi :

• Profesional sistem yang merancang sistem

• Para manajer dan beberapa staff

• Perwakilan Vendor

• Pemakai Primer

• Pengcode

• Teknisi

Bagian Pokok Implementasi Diperlukan :

• Persiapan tempat

• Pelatihan personil

• Persiapan/pembuatan dokumentasi

• Konversi file & sistem

• Peninjauan Pasca Implementasi

Persiapan tempat Yang perlu dipersiapkan :

  • · Ruang (sesuai dengan platform teknologi yang akan digunakan – Micro, mini atau mainframe)
  • · Listrik, Telpon, koneksi lainnya, ventilasi, AC, Keset anti debu, karpet, rak, penyangga barang, meja, penyimpan disk/pita, lemari kabinet, tempat personil, lokasi printer, dudukan printer dan furniture yang dirancang secara ergonomis
  • · Pengujian Burn in (simulasi operasi pada vendor)

Pelatihan Personil

  • “Tidak ada sistem yang bekerja secara memuaskan jika para pemakai dan orang lain yang berinteraksi dengan sistem tersebut tidak dilatih secara benar”
  • “Pelatihan Personil tidak hanya meningkatkan keahlian/ketrampilan pemakai, namun juga memudahkan penerimaan mereka terhadap sistem baru”

Yang perlu diberi pelatihan :

  • Personel teknis yang akan mengoperasikan dan memelihara sistem tsb.
  • Berbagai pekerja dan supervisor yang akan berinteraksi langsung dengan sistem untuk mengerjakan tugas dan membuat keputusan
  • Manajer Umum
  • (Pihak luar yang berinteraksi dengan sistem)

Pelatihan meningkatkan kepercayaan diri, meminimisasi kerusakan, kesalahan pada tahap awal operasi :

Cakupan pelatihan :

  • Tutorial, mengajarkan cara menjalankan sampai pelatihan untuk mengajarkan pokok-pokok sistem baru.

Program Pelatihan :

  • Pelatihan In house
  • Pelatihan yang disediakan oleh vendor
  • Jasa pelatihan luar

Teknik dan Alat bantu pelatihan :

  • Teleconferencing
  • Perangkat lunak pelatihan interaktif
  • Pelatihan dengan instruktur
  • Pelatihan magang
  • Manual prosedur
  • Buku teks

Perangkat lunak pelatihan interaktif :

  • CBT (Computer-Based Training)
  • ABT (Audio-Based Training)
  • VBT (Video-Based Training)
  • VOD (Video-Optical Disk)

Menyiapkan Dokumen

Dokumentasi adalah materi tertulis/video/audio yang menjabarkan cara beroperasinya sebuah sistem (termasuk pokok bahasan-pokok bahasan yang harus dikuasai oleh pemakai)

Tujuan Dokumentasi :

  • Pelatihan
  • Penginstruksian
  • Pengkomunikasian
  • Penetapan standart kinerja
  • Pemeliharaan sistem
  • Referensi historis

Menyiapkan Dokumen

Empat Area Utama Dokumentasi :

  • Dokumentasi Pemakai
  • Dokumentasi Sistem
  • Dokumentasi Perangkat Lunak
  • Dokumentasi Operasi

Gambar 5. Rencana Implementasi Sistem (PERT)

Mengconversi Sistem Baru

Proses pengubahan dari sistem lama ke sistem baru. Kompleksitas dalam pengconversian tergantung pada beberapa faktor antara lain : Jenis PL, Database, Perangkat H/W, Kendali, Jaringan, prosedur.

Gambar 6. Evaluasi Sistem Baru Setelah Implementasi

Pengalihan Sistem Informasi dari sistem yang lama ke sistem yang baru dapat berakibat fatal, terjadi karena :

  • Belum siapnya sumber daya untuk mengaplikasikan system yang baru.
  • system baru sudah terpasang, namun terdapat kesalahan prosedur dalam pelaksanaanya, sehingga perubahan tidak dapat terjadi. Sehingga keberadaan system baru justru mempersulit kinerja yang sudah ada.
  • Perencanaan dan aplikasi sistem Informasi tidak memiliki arah dan tahapan yang baik.
  • Tidak ada komunikasi yang baik diantara vendor sebagai penyedia IT dengan perusahaan sebagai pengguna, sehingga system baru yang terbentuk menjadi tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna.
  • Perusahaan memandang perubahan teknologi merupakan hal yang harus dilakukan agar perusahaan tidak ketinggalan zaman. Namun sebenarnya perusahaan tidak membutuhkan teknologi tersebut.
  • Level kematangan perusahaan terhadap TI masih rendah.
  • Fenomena ini terjadi karena dengan adanya perubahan dari sistem lama ke sistem baru maka akan terjadi keadaan dimana karyawan menghadapi masa transisi yaitu keharusan menjalani adaptasi yang dapat berupa adaptasi teknikal (skill, kompetensi, proses kerja), kultural (perilaku, mind set, komitment) dan politikal (munculnya isu efisiensi karyawan/PHK, sponsorship/dukungan top management). Dengan adanya ketiga hal ini maka terjadi saling tuding di dalam organisasi, dimana manajemen puncak menyalahkan bawahan yang bertanggung jawab, konsultan, vendor bahkan terkadang peranti TI itu sendiri.

Langkah-langkah yang dilakukan agar kesalahan alih system informasi dapat dihindari:

  • Lihat kembali dan koreksi visi yang ingin di bangun, pelajari implementasi apa yang belum maksimal dan latih sumber daya manusia agar mampu mengoptimalkan peranti yang sudah dibeli. Hal ini hanya akan mungkin untuk dilaksanakan apabila pimpinan perusahaan mengetahui tentang TI/sedikit tentang TI, sehingga dia paham apa yang ingin dicapai perusahaannya dengan mengaplikasikan TI ini.
  • Harus menciptakan sinergisme diantara subsistem-subsistem yang mendukung pengoperasian sistem sehingga akan terjadi kerjasama secara terintegrasi diantara subsistem-subsistem ini. Asumsi hanya akan tercapai apabila para perancang sistem ini mengetahui masalah-masalah informasi  apa yang ada di perusahaan dan yang harus segera di selesaikan. Biasanya para perancang sistem ini akan mulai pada tingkat perusahaan, selanjutnya turun ke tingkat-tingkat sistem.
  • Para perancang Sistem Informasi harus menyadari bagaimana rasa takut di pihak pegawai maupun manajer dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan proyek pengembangan dan sistem operasional. Manajemen perusahaan, dibantu oleh spesialis informasi, dapat mengurangi ketakutan ini dan dampaknya yang merugikan dengan mengambil empat langkah berikut :

v menggunakan komputer sebagai suatu cara mencapai peningkatan pekerjaan (job enhancement) dengan memberikan pada komputer tugas yang berulang dan membosankan, serta memberikan pada pegawai tugas yang menantang kemampuan mereka.

v Menggunakan komunikasi awal untuk membuat pegawai terus menyadari maksud perusahaan. Pengumuman oleh pihak manajemen puncak pada awal tahap analisis dan penerapan dari siklus hidup sistem merupakan contoh strategi ini.

v Membangun hubungan kepercayaan antara pegawai, spesialisasi informasi dan manajemen. Hubungan tersebut tercapai dengan sikap jujur mengenai dampak-dampak dari sistem komputer dan dengan berpegang pada janji. Komunikasi formal dan penyertaan pemakai pada tim proyek mengarah pada tercapainya kepercayaan.

v Menyelaraskan kebutuhan pegawai dengan tujuan perusahaan. Pertama, identifikasi kebutuhan pegawai, kemudian memotivasi pegawai dengan menunjukkan pada mereka bahwa bekerja menuju tujuan perusahaan juga membantu mereka memenuhi kebutuhan mereka.

Posted in Uncategorized | Comments Off on Software Maintability

Konversi System Informasi

Konversi system merupakan tahapan yang digunakan untuk mengoperasikan IT dalam rangka menggantikan sistem yang lama atau proses pengubahan dari system lama ke sistem baru. Derajad kesulitan dan kompleksitas dalam pengkonversian dari system lama ke sistem baru tergantung pada sejumlah faktor. Jika sistem baru merupakan paket perangkat lunak terbungkus (canned) yang akan berjalan pada komputernya yang baru, maka konversi akan relatif lebih mudah. Jika Konversi memanfaatkan perangkat lunak terkustomisasi baru, database baru, perangkat komputer dan perangkat lunak kendaii baru, jaringan baru dan perubahan drastis dalam prosedumya, maka konversi menjadi agak sulit dan menantang.

Ada empat metode konversi sistem, yaitu :

Konversi Langsung (Direct Conversion)

Konversi ini dilakukan dengan cara menghentikan sistem lama dan menggantikannya dengan sistem baru. Cara ini merupakan yang paling berisiko, tetapi murah. Konversi langsung adalah pengimplementasian sistem baru dan pemutusan jembatan sistem lama, yang kadang-kadang disebut pendekatan cold turì<ey. Apabila konversi telah dilakukan, maka tak ada cara untuk balik ke sistem lama.

Pendekatan atau cara  konversi ini akan bermanfaat apabila :

  1. Sistem tersebut tidak mengganti sistem lain.
  2. Sistem yang lama sepenuhnya tidak bernilai.
  3. Sistem yang barn bersifat kecil atau sederhana atau keduanya.
  4. Rancangan sistem baru sangat berbeda dari sistem lama, dan perbandingan antara sistem – sistem tersebut tidak berarti.

Kelebihan :

Relatif tidak mahal.

Kelemahan :

Mempunyai risiko kegagalan yang tinggi.

Apabila konversi langsung akan digunakan, aktivitas-aktivitas pengujian dan pelatihan yang dibahas sebelumnya akan mengambil peran yang sangat penting.

Gambar 1. Konversi Langsung

Konversi Paralel (Parallel Conversion)

Pada konversi ini, sistem baru dan sistem lama sama-sama dijalankan. Setelah melalui masa tertentu, jika sistem baru telah bisa diterima untuk menggantikan sistem lama, maka sistem lama segera dihentikan. Cara seperti ini merupakan pendekatan yang paling aman, tetapi merupakan cara yang paling mahal, karena pemakai harus menjalankan dua system sekaligus. Konversi Paralel adalah suatu pendekatan dimana baik sistem lama dan baru beroperasi secara serentak untuk beberapa période waktu dan kebalikan dari konversi langsung. Dalam mode konversi paralel, output dari masing-masing system tersebut dibandingkan, dan perbedaannya direkonsiliasi.

Kelebihan :

Memberikan derajad proteksi yang tinggi kepada organisasi dari kegagalan sistem baru.

Kelemahan :

Besarnya biaya untuk penduplikasian fasilitas-fasilitas dan biaya personel yang memelihara sistem rangkap tersebut.

Ketika proses konversi suatu sistem baru melibatkan operasi paralel, maka orang-orang pengembangan sistem harus merencanakan untuk melakukan peninjauan berkala dengan personel operasi dan pemakai.

Gambar 2. Konversi Paralel

Konversi Bertahap (Phase-In Conversion)

Konversi ditakukan dengan menggantikan suatu bagian dari system lama dengan sistem baru. Jika terjadi sesuatu, bagian yang baru tersebut akan diganti kembali dengan yang lama. Jika tak terjadi masalah, modul-modul baru akan dipasangkan lagi untuk mengganti modul-modul lama yang lain. Dengan pendekatan seperti ini, akhirnya semua sistem lama akan tergantikan oleh sistem baru. Cara seperti ini lebih aman daripada konversi langsung. Dengan metode Konversi Phase-in, sistem baru diimplementasikan

beberapa kali, yang secara sedikit demi sedikit mengganti yang lama. la menghindarkan dari risiko yang ditimbulkan oleh konversi langsung dan memberikan waktu yang banyak kepada pemakai untuk mengasimilasi perubahan. Untuk menggunakan metode phase-in, sistem harus disegmentasi.

Kelebihan :

Kecepatan perubahan dalam organisasi tertentu bisa diminimasi, dan sumber-sumber pemrosesan data dapat diperoleh sedikit demi sedikit selama période waktu yang luas.

Kelemahan :

Keperluan biaya yang harus diadakan untuk mengembangkan interface temporer dengan sistem lama, daya terapnya terbatas, dan terjadi kemunduran semangat di organisasi, sebab orang-orang tidak pernah merasa menyelesaikan sistem.

Gambar 3. Konversi Bertahap

  • Sistem baru diimplementasi beberapa kali, sedikit demi sedikit untuk menggantikan sistem yang lama
  • Sistem harus disegmentasi
  • Perlu biaya tambahan untuk mengembangkan interface temporer dengan sistem lama.
  • Daya terapnya terbatas, proses implementasi membutuhkan waktu yang panjang

Konversi Pilot (Pilot Conversion)

Pendekatan ini dilakukan dengan cara menerapkan sistem baru hanya pada lokasi tertentu yang diperlakukan sebagai pelopor. Jika konversi ini dianggap berhasil, maka akan diperluas ke tempat-tempat yang lain. Ini merupakan pendekatan dengan biaya dan risiko yang rendah. Dengan metode Konversi Pilot, hanya sebagian dari organisasilah yang mencoba mengembangkan sistem baru. Kalau metode phase-in mensegmentasi sistem, sedangkan metode pilot mensegmentasi organisasi.

METODE UNTUK MENGKONVERSI FILE DATA YANG ADA

Keberhasilan konversi sistem sangat tergantung pada seberapa jauh profesional sistem menyiapkan penciptaan dan pengkonversian file data yang diperlukan untuk sistem baru. Dengan mengkorversi suatu file, maksudnya adalah bahwa file yang telah ada {existing) harus dimodifikasi setidaknya dalam :

■ Format file tersebut

■ Isi file tersebut

■ Media penyimpanan dimana file ditempatkan

Dalam suatu konversi sistem, kemungkinan beberapa file bisa

mengalami ketiga aspek konversi tersebut secara serentak.

Gambar 4. Konversi Pilot (Pilot Conversion)

  • Perlunya segmentasi organisasi.
  • Resiko lebih rendah dibandingkan metode konversi langsung.
  • Biaya lebih rendah dibandingkan metode parallel.
  • Cocok digunakan apabila adanya perubahan prosedur, H/W dan S/W.

Ada dua metode dasar yang bisa digunakan untuk menjalankan konversi file :

Konversi File Total dapat digunakan bersama dengan semua metode konversi file sistem di atas.

Konversi File Gradual (sedikit demi sedikit) terutama digunakan dengan metode paralel dan phase-in. Dalam beberapa contoh, ia akan bekerja untuk metode pilot. Umumnya konversi file gradual tidak bisa diterapkan untuk konversi sistem langsung.

Konversi File Total

Jika file sistem baru dan file sistem lama berada pada media yang bisa dibaca komputer, maka bisa dituliskan program sederhana untuk mengkonversi file dari format lama ke format baru. Umumnya pengkonversian dari satu sistem komputer ke sistem yang lain akan melibatkan tugas-tugas yang tidak bisa dikerjakan secara otomatis. Rancangan file baru hampir selalu mempunyai field-field record tambahan, struktur pengkodean baru, dan cara baru perelasian item- item data (misalnya, file-file relasional). Seringkali, selama konversi file, kita perlu mengkonstruksi prosedur kendali yang rinci untuk memastikan integritas data yang bisa digunakan setelah konversi itu. Dengan menggunakan klasifikasi file berikut, perlu diperhatikan jenis prosedur kendali yang digunakan selama konversi:

File Master

Ini adalah file utama dalam database. Biasanya paling sedikit satu file master diciptakan atau dikonversi dalam setiap konversi sistem.

File Transaksi

File ini selalu diciptakan dengan memproses suatu sub- system individual di dalam sistem informasi. Akibatnya, ia harus dicek secara seksama selama pengujian sistem informasi.

File Indeks

File ini berisi kunci atau aiamat yang menghubungkan berbagai file master. File indeks baru hams diciptakan kapan saja file master yang berhubungan dengannya mengalami konversi.

File Tabel

File ini dapat juga diciptakan dan dikonversi seiama konversi sistem. File tabel bisa juga diciptakan untuk mendukung pengujian perangkat lunak.

File Backup

Kegunaan file backup adalah untuk memberikan keamanan bagi database apabila terjadi kesalahan pemrosesan atau kerusakan dalam pusat data. Oleh karenanya, ketika suatu file dikonversi atau diciptakan, file backup harus diciptakan.

Konversi File Gradual

Beberapa perusahaan mengkonversi file-file data mereka secara gradual (sedikit demi sedikit). Record-record akan dikonversi hanya ketika mereka menunjukkan beberapa aktivitas transaksi. Record-record lama yang tidak menunjukkan aktivitas tidak pernah dikonversi. Metode ini bekerja dengan cara berikut :

1. Suatu transaksi diterima dan dimasukkan ke dalam sistem.

2. Program mencari file master baru (misalnya file inventarisasi atau file account receivable) untuk record yang tepat yang akan di update oleh transaksi itu. Jika record tersebut telah siap dikonversi, berarti peng-update-an record telah selesai.

3. Jika record tersebut tidak ditemukan dalam file master baru, file master lama diakses untuk record yang tepat, dan ditambahkan ke file master baru dan di update.

4. Jika transaksi tersebut adalah record baru, yakni record yang tidak dijumpai pada file lama maupun file baru (misalnya, pelanggan baru), maka record baru disiapkan dan ditambahkan ke file master baru.

Mengconversi File Data

“Keberhasilan konfersi sistem sangat tergantung pada seberapa jauh profesional sistem menyiapkan pengkonversian file data yang diperlukan untuk sistem baru”

Konversi/Modifikasi meliputi :

  • Format File.
  • Isi File.
  • Media Penyimpanan.

Metode Dasar Konversi File :

  • Konversi File Total à dapat digunakan pada ke 4 metode konversi system.
  • Konversi File Gradual à terutama digunakan pada metode paralel dan phase-in.

Konfersi file Gradual :

  • Selama konversi file perlu diperhatikan prosedur kendali untuk memastikan integrasi data.
  • Prosedur kendali untuk masing-masing klasifikasi file berbeda.

Klasifikasi File :

  1. File Master
  2. File Transaksi
  3. File Index
  4. File tabel
  5. File backup
  • Suatu Transaksi diterima dan dimasukan ke dalam sistem
  • Program mencari file master baru untuk record yang akan diupdate oleh transaksi tsb, jika record tersebut ada maka pengupdatetan record selesai.
  • Jika record tidak ditemukan dalam file master baru, file master lama diakses untuk record yang tepat dan ditambahkan pada file master baru dan diupdate.
  • Jika Transaksi untuk record baru, record baru disiapkan dan ditambahkan ke file master baru.

Tahap akhir dalam siklus pengembangan system yaitu melibatkan pengintegrasian semua komponen rancangan sistem => termasuk Perangkat Lunak, pengkonversian sistem total ke operasi.

Rencana Implementasi

Adalah formulasi rinci dan representasi grafik mengenai cara pencapaian implementasi sistem yang akan dilaksanakan (Tergantung pada Kompleksitas proyek).

Team Implementasi :

• Profesional sistem yang merancang sistem

• Para manajer dan beberapa staff

• Perwakilan Vendor

• Pemakai Primer

• Pengcode

• Teknisi

Bagian Pokok Implementasi Diperlukan :

• Persiapan tempat

• Pelatihan personil

• Persiapan/pembuatan dokumentasi

• Konversi file & sistem

• Peninjauan Pasca Implementasi

Persiapan tempat Yang perlu dipersiapkan :

  • · Ruang (sesuai dengan platform teknologi yang akan digunakan – Micro, mini atau mainframe)
  • · Listrik, Telpon, koneksi lainnya, ventilasi, AC, Keset anti debu, karpet, rak, penyangga barang, meja, penyimpan disk/pita, lemari kabinet, tempat personil, lokasi printer, dudukan printer dan furniture yang dirancang secara ergonomis
  • · Pengujian Burn in (simulasi operasi pada vendor)

Pelatihan Personil

  • “Tidak ada sistem yang bekerja secara memuaskan jika para pemakai dan orang lain yang berinteraksi dengan sistem tersebut tidak dilatih secara benar”
  • “Pelatihan Personil tidak hanya meningkatkan keahlian/ketrampilan pemakai, namun juga memudahkan penerimaan mereka terhadap sistem baru”

Yang perlu diberi pelatihan :

  • Personel teknis yang akan mengoperasikan dan memelihara sistem tsb.
  • Berbagai pekerja dan supervisor yang akan berinteraksi langsung dengan sistem untuk mengerjakan tugas dan membuat keputusan
  • Manajer Umum
  • (Pihak luar yang berinteraksi dengan sistem)

Pelatihan meningkatkan kepercayaan diri, meminimisasi kerusakan, kesalahan pada tahap awal operasi :

Cakupan pelatihan :

  • Tutorial, mengajarkan cara menjalankan sampai pelatihan untuk mengajarkan pokok-pokok sistem baru.

Program Pelatihan :

  • Pelatihan In house
  • Pelatihan yang disediakan oleh vendor
  • Jasa pelatihan luar

Teknik dan Alat bantu pelatihan :

  • Teleconferencing
  • Perangkat lunak pelatihan interaktif
  • Pelatihan dengan instruktur
  • Pelatihan magang
  • Manual prosedur
  • Buku teks

Perangkat lunak pelatihan interaktif :

  • CBT (Computer-Based Training)
  • ABT (Audio-Based Training)
  • VBT (Video-Based Training)
  • VOD (Video-Optical Disk)

Menyiapkan Dokumen

Dokumentasi adalah materi tertulis/video/audio yang menjabarkan cara beroperasinya sebuah sistem (termasuk pokok bahasan-pokok bahasan yang harus dikuasai oleh pemakai)

Tujuan Dokumentasi :

  • Pelatihan
  • Penginstruksian
  • Pengkomunikasian
  • Penetapan standart kinerja
  • Pemeliharaan sistem
  • Referensi historis

Menyiapkan Dokumen

Empat Area Utama Dokumentasi :

  • Dokumentasi Pemakai
  • Dokumentasi Sistem
  • Dokumentasi Perangkat Lunak
  • Dokumentasi Operasi

Gambar 5. Rencana Implementasi Sistem (PERT)

Mengconversi Sistem Baru

Proses pengubahan dari sistem lama ke sistem baru. Kompleksitas dalam pengconversian tergantung pada beberapa faktor antara lain : Jenis PL, Database, Perangkat H/W, Kendali, Jaringan, prosedur.

Gambar 6. Evaluasi Sistem Baru Setelah Implementasi

Pengalihan Sistem Informasi dari sistem yang lama ke sistem yang baru dapat berakibat fatal, terjadi karena :

  • Belum siapnya sumber daya untuk mengaplikasikan system yang baru.
  • system baru sudah terpasang, namun terdapat kesalahan prosedur dalam pelaksanaanya, sehingga perubahan tidak dapat terjadi. Sehingga keberadaan system baru justru mempersulit kinerja yang sudah ada.
  • Perencanaan dan aplikasi sistem Informasi tidak memiliki arah dan tahapan yang baik.
  • Tidak ada komunikasi yang baik diantara vendor sebagai penyedia IT dengan perusahaan sebagai pengguna, sehingga system baru yang terbentuk menjadi tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna.
  • Perusahaan memandang perubahan teknologi merupakan hal yang harus dilakukan agar perusahaan tidak ketinggalan zaman. Namun sebenarnya perusahaan tidak membutuhkan teknologi tersebut.
  • Level kematangan perusahaan terhadap TI masih rendah.
  • Fenomena ini terjadi karena dengan adanya perubahan dari sistem lama ke sistem baru maka akan terjadi keadaan dimana karyawan menghadapi masa transisi yaitu keharusan menjalani adaptasi yang dapat berupa adaptasi teknikal (skill, kompetensi, proses kerja), kultural (perilaku, mind set, komitment) dan politikal (munculnya isu efisiensi karyawan/PHK, sponsorship/dukungan top management). Dengan adanya ketiga hal ini maka terjadi saling tuding di dalam organisasi, dimana manajemen puncak menyalahkan bawahan yang bertanggung jawab, konsultan, vendor bahkan terkadang peranti TI itu sendiri.

Langkah-langkah yang dilakukan agar kesalahan alih system informasi dapat dihindari:

  • Lihat kembali dan koreksi visi yang ingin di bangun, pelajari implementasi apa yang belum maksimal dan latih sumber daya manusia agar mampu mengoptimalkan peranti yang sudah dibeli. Hal ini hanya akan mungkin untuk dilaksanakan apabila pimpinan perusahaan mengetahui tentang TI/sedikit tentang TI, sehingga dia paham apa yang ingin dicapai perusahaannya dengan mengaplikasikan TI ini.
  • Harus menciptakan sinergisme diantara subsistem-subsistem yang mendukung pengoperasian sistem sehingga akan terjadi kerjasama secara terintegrasi diantara subsistem-subsistem ini. Asumsi hanya akan tercapai apabila para perancang sistem ini mengetahui masalah-masalah informasi  apa yang ada di perusahaan dan yang harus segera di selesaikan. Biasanya para perancang sistem ini akan mulai pada tingkat perusahaan, selanjutnya turun ke tingkat-tingkat sistem.
  • Para perancang Sistem Informasi harus menyadari bagaimana rasa takut di pihak pegawai maupun manajer dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan proyek pengembangan dan sistem operasional. Manajemen perusahaan, dibantu oleh spesialis informasi, dapat mengurangi ketakutan ini dan dampaknya yang merugikan dengan mengambil empat langkah berikut :

v menggunakan komputer sebagai suatu cara mencapai peningkatan pekerjaan (job enhancement) dengan memberikan pada komputer tugas yang berulang dan membosankan, serta memberikan pada pegawai tugas yang menantang kemampuan mereka.

v Menggunakan komunikasi awal untuk membuat pegawai terus menyadari maksud perusahaan. Pengumuman oleh pihak manajemen puncak pada awal tahap analisis dan penerapan dari siklus hidup sistem merupakan contoh strategi ini.

v Membangun hubungan kepercayaan antara pegawai, spesialisasi informasi dan manajemen. Hubungan tersebut tercapai dengan sikap jujur mengenai dampak-dampak dari sistem komputer dan dengan berpegang pada janji. Komunikasi formal dan penyertaan pemakai pada tim proyek mengarah pada tercapainya kepercayaan.

v Menyelaraskan kebutuhan pegawai dengan tujuan perusahaan. Pertama, identifikasi kebutuhan pegawai, kemudian memotivasi pegawai dengan menunjukkan pada mereka bahwa bekerja menuju tujuan perusahaan juga membantu mereka memenuhi kebutuhan mereka.

Posted in Uncategorized | Comments Off on Konversi System Informasi

Perbedaan Pengembangan software dengan Sistem Informasi

Pengembangan software atau dikenal juga sebagai software engineering menurut IEEE adalah aplikasi sistematik, disiplin, pendekatan kuantitatif untuk pengembangan, operasi dan pemeliharaan dari software, dengan kata lain software engineering merupakan sebuah metodologi pengembangan perangkat lunak (software) yang membahas semua aspek produksi perangkat lunak, mulai dari tahap awal spesifikasi sistem hingga pada tahap pemeliharaan sistem setelah digunakan dengan tujuan untuk membuat perangkat lunak yang tepat dengan metode yang tepat. Sedangkan pengembangan sistem informasi merupakan proses pengembangan sistem untuk menghasilkan sistem informasi (CBIS atau computer based information system) dimana metodologi pengembangan sistem digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan pengelolaan dan pengendalian komponen sistem informasi (sumber daya manusia, hardware, software, jaringan, sumberdaya data dan produk informasi).

Terdapat 2 hal yang perlu di pertimbangkan dalam pengembangan software, yang pertama adalah produk atau software itu sendiri serta proses pengembangannya. Produk, sendiri terdiri dari program, dokumen, dan data, sementara proses terdiri dari proses manajemen dan proses teknikal.

Produk dari perangkat lunak dipantau melewati beberapa tahap pengembangan yang dikenal juga sebagai system development life cycle (SDLC). Contoh dari SDLC antara lain model waterfall, model V, model spiral, prototyping dan lain-lain. Sedangkan proses manajemen dalam pengembangan software lunak terdiri atas manajemen proyek, configuration management, quality assurance management. Sementara, proses teknikal merupakan metode yang diaplikasikan pada tahap tertentu dalam pengembangan software, yang didalamnya termasuk metode analisis, metode desain, metode pemrograman, dan metode testing.

Dalam model atau paradigma pengembangan software, terdapat 3 metode yang secara luas dipergunakan, yaitu:

  1. 1. System Development Life Cycle (SDLC)

Yaitu, proses pengembangan dimana keseluruhan proses pengembangan sistem dilakukan melalui proses multi-langkah dari investigasi persyaratan awal melalui analisis, desain, implementasi dan pemeliharaan (sumber: Russel Kay, Computer World).

SDLC terdiri dari beberapa jenis model antara lain model Waterfall, Fountain, dan Spiral. Pada model waterfall output dari langkah yang satu akan menjadi input bagi langkah selanjutnya:

  1. a. Waterfall model

Berikut merupakan penjelasan setiap fase atau tahapan yang terjadi pada waterfall model:

1)     Tahap Investigasi

Pada tahap investigasi akan terjadi proses seperti:

a)   Initialisasi, pada initialisasi akan terjadi proses seperti perencanaan manajemen, kebutuhan serta potensi dari user.

b)  Definisi formal, pada proses ini dilakukan definisi tujuan, motivasi, ruang lingkup, batasan, kendala, dan strategi. Selain itu, pada definisi formal juga dilakukan verifikasi permasalahan sehingga dapat dilakukan penilaian terhadap kebutuhan yang baru.

c)   Uji kelayakan, yang terdiri dari:

  1. Uji kelayakan teknis
  2. Uji kelayakan ekonomis
  3. Uji kelayakan operasional
  4. Uji kelayakan kelayakan organisasi

2)     Tahap Analisa

Pada tahap ini sistem yang akan dibangun diselaraskan dengan kebutuhan user atau pengguna. Pada tahap ini terjadi proses seperti:

a)     Determine requirements atau penentuan kebutuhan, hal ini dilakukan dengan cara mempelajari sistem yang telah ada, serta menentukan kebutuhan struktur dan menghilangkan redundansi.

b)     Requirement analysis atau analisa kebutuhan, terdiri dari analisa kebutuhan fungsional dan performa (kinerja).

c)      Menghasilkan desain sistem alternatif

d)     Membandingkan alternatif desain sistem yang dihasilkan dan

e)     Merekomendasikan alternatif terbaik kepada klien.

3)     Tahap Desain

Yaitu, merupakan tahap menentukan bagaimana sistem mencapai tujuan yang telah didefinisikan sebelumnya. Tahap ini terdiri dari:

a)     User interface design

b)     Data design

c)      Process design

4)     Tahap Implementasi

Pada tahap ini terjadi beberapa hal seperti:

a)     Evaluasi hardware, software dan jasa

b)     Modifikasi dan pengembangan software

c)      Dokumentasi, yang merupakan mekanisme komunikasi utama selama proses pengembangan.

d)     Konversi data, pada proses ini terjadi perbaikan dan penyaringan data yang tidak diinginkan dan konsolidasi data.

e)     Testing atau uji coba, pada proses ini dilakukan uji coba dan debugging software.

f)       Training atau pelatihan sistem/software yang telah terbentuk.

g)     Konversi, yakni proses pergantian dari sistem lama ke sistem baru. Proses konversi dapat dilakukan melalui 4 macam cara antara lain:

  1. Parallel strategy
  2. Pilot strategy
  3. Phased strategy dan
  4. Plunge strategy

5)     Tahap Pemeliharaan (maintenance)

Pada proses ini terjadi modifikasi software, perbaikan error atau umpan balik dari user terhadap software yang telah mereka gunakan.

  1. b. Spiral Model

Model spiral (spiral model) adalah model pengembangan software dimana proses digambarkan sebagai spiral. Setiap loop akan mewakili satu fase dari software process. Loop paling dalam berfokus pada kelayakan dari sistem, loop selanjutnya tentang definisi dari kebutuhan, loop berikutnya berkaitan dengan desain sistem dan seterusnya.

Pada spiral model, setiap Loop dibagi dibagi menjadi sejumlah aktifitas kerangka kerja yang disebut juga wilayah tugas, wilayah tugas tersebut terdiri antara tiga sampai enam wilayah tugas, yaitu :

  1. Komunikasi Pelanggan

Tugas – tugas yang dibutuhkan untuk membangun komunikasi yang efektif di antara pengembangan dan pelanggan.

  1. Perencanaan

Tugas–tugas yang dibutuhkan untuk mendefinisikan sumber–sumber daya, ketepatan waktu, dan proyek informasi lain yang berhubungan.

  1. Analisis Risiko

Tugas – tugas yang dibutuhkan untuk menaksir risiko – risiko, baik manajemen maupun teknis.

  1. Perekayasaan

Tugas – tugas yang dibutuhkan untuk membangun satu atau lebih representasi dari aplikasi tersebut.

  1. Konstruksi dan peluncuran

Tugas – trugas yang dibutuhkan untuk mengkonstruksi, menguji, instalasi dan memberikan pelayanan kepada pemakai (contohnya pelatihan dan dokumentasi).

f. Evaluasi pelanggan

Tugas – tugas yang dibutuhkan untuk memperoleh umpan balik dari pelanggan dengan didasarkan pada evaluasi representasi software, yang dibuat selama masa perekayasaan, dan diimplementasikan selama masa pemasangan software.

  1. 2. Rapid Application Development (RAD)

Rapid Aplication Development (RAD) adalah sebuah metode pengembangan software yang diciptakan untuk menekan waktu yang dibutuhkan untuk mendesain serta mengimplementasikan sistem, informasi sehingga dihasilkan siklus pengembangan yang sangat pendek.

Model RAD ini merupakan adaptasi dari model sekuensial linier dimana perkembangan yang cepat dicapai dengan menggunakan pendekatan kontruksi berbasis komponen. Sehingga, jika kebutuhan sistem dipahami dengan baik, proses RAD memungkinkan developer menciptakan sistem fungsional yang utuh dalam periode waktu yang sangat pendek (± 60 sampai 90 hari). Karena dipakai terutama pada aplikasi sistem konstruksi, pendekatan RAD meliputi fase – fase seperti  seperti dibawah ini:

  1. a. Bussiness modeling

Aliran informasi di antara fungsi – fungsi bisnis dimodelkan dengan suatu cara untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan seperti:

1)     Informasi apa yang mengendalikan proses bisnis?

2)     Informasi apa yang di munculkan?

3)     Siapa yang memunculkanya?

4)     Ke mana informasi itu pergi?

5)     Siapa yang memprosesnya?

  1. b. Data modeling

Aliran informasi yang didefinisikan sebagai bagian dari fase bussiness modelling disaring ke dalam serangkaian objek data yang dibutuhkan untuk menopang bisnis tersebut. Karakteristik (disebut atribut) masing masing objek diidentifikasi dan hubungan antara objek – objek tersebut didefinisikan.

  1. Prosess modelling

Aliran informasi yang didefinisikan di dalam fase data modeling ditransformasikan untuk mencapai aliran informasi yang perlu bagi implementasi sebuah fungsi bisnis. Gambaran pemrosesan diciptakan untuk menambah, memodifikasi, menghapus, atau mendapatkan kembali sebuah objek data.

  1. Aplication generation

RAD mengasumsikan pemakaian teknik generasi ke empat. Selain menciptakan perangkat lunak dengan menggunakan bahasa pemrograman generasi ketiga yang konvensional, RAD lebih banyak memproses kerja untuk memkai lagi komponen program yang ada (pada saat memungkinkan) atau menciptakan komponen yang bisa dipakai lagi (bila perlu). Pada semua kasus, alat – alat bantu otomatis dipakai untuk memfasilitasi konstruksi perangkat lunak.

  1. Testing and turnover

Karena proses RAD menekankan pada pemakaian kembali, banyak komponen program telah diuji. Hal ini mengurangi keseluruhan waktu pengujian. Tetapi komponen baru harus di uji dan semua interface harus dilatih secara penuh.

Keunggulan dan kelemahan model RAD adalah :

Keunggulan:

  1. Waktu pengembangan yang lebih singkat dan
  2. Biaya yang relatif lebih murah

Kelemahan:

  1. Tidak cocok untuk proyek skala besar
  2. Proyek bisa gagal karena waktu yang disepakati tidak dipenuhi
  3. Sistem yang tidak bisa dimodularisasi tidak cocok untuk model
  4. Resiko teknis yang tinggi juga kurang cocok untuk model ini
  1. 3. Prototyping

Information systems desain merupakan pekerjaan yang fokus dengan spesifikasi solusi yang berbasiskan computer. Jika analisis sistem berhubungan dengan masalah bisnis, maka desain sistem fokus terhadap implementasi dan masalah teknik sistem.Sistem desain ditentukan oleh sistem designer atau perancang desain, sehingga data, process, dan interface dari sistem ditentukan oleh perspektif perancang. Prototyping merupakan salah satu teknik atau pendekatan dalam menerapkan desain system. Dahulu, para analis membuat desain fisik dengan cara menggambar layout atau struktur dari outputs, inputs, basis data serta aliran dari dialog dan proses di atas kertas. Hal itu merupakan proses yang cenderung menimbulkan error dan hilangnya informasi (omissions). Umumnya hasil dengan cara ini adalah ketidakakuratan, ketidakcukupan serta ketidaklengkapan. Saat ini para analis dan desainer lebih memilih prototyping, yaitu sebuah pendekatan yang berbasiskan teknik untuk membuat desain.

Pendekatan prototyping merupakan proses iteratif yang meliputi hubungan kerja yang dekat antara desainer dan user. Pendekatan ini memiliki beberapa keuntungan yaitu :

  1. Prototyping melibatkan partisipasi aktif end-user, hal ini dapat meningkatkan moral end-user serta mendukung untuk proyek
  2. Prototyping lebih cocok dengan keadaan sebenarnya karena prototype selalu berkembang – karena adanya proses iterasi – hingga menjadi sistem yang dibutuhkan
  3. End user bisa mengetahui kebutuhan dan kesesuaian sistem tanpa harus menunggu sampai sistem diimplementasikan
  4. Prototype merupakan model aktif, bukan pasif, yang user dapat lihat, sentuh, rasakkan, dan alami
  5. Protoyping dapat meningkatkan kreatifitas karena memungkinkan user untuk lebih cepat memberikan feedback, yang akan mampu membawa menuju solusi yang lebih baik
  6. Mampu mendeteksi eror lebih dini
  7. Prtotyping mampu mempercepat beberapa fase dari life cycle

Selain keuntungan, pendekatan prototyping ini juga menimbulkan kerugian. Umumnya kerugian yang terjadi tesebut disebabkan oleh satu hal yaitu pendekatan prototyping mendorong menuju ill-advised karena adanya shortcut melalui life cycle. Tetapi, kerugian in dapat dihindari dengan mengikuti disiplin-disiplin dibawah ini:

  1. Prototyping menggunakan life cycle “ code, implement, and repair” yang digunakan untuk mendominasi sistem informasi. Pengalaman beberapa perusahaan, sistem yabg dikembangkan dalam prototyping dapat menyebabkan masalah yang sama dalam perawatan yang disebabkan oleh “warisan” sistem yang dikembangkan sebelumnya seperti misalnya COBOL.
  2. Prototyping tidak meniadakan proses analisis sistem.
  3. Adanya pendekatan prototyping bukanlah untuk menggantikan secara total desain dengan cara konvensional. Prototyping harusnya melengkapi, bukan menggantikan, metodologi yang lain.
  4. Beberapa isu desain tidak dapat ditaruh pada pendekatan prototyping. Isu-isu ini dapat mudah dilupakan oleh para desain bila mereka tidak berhati-hati
  5. Prototyping dapat menyebabkan komitmen yang prematur pada desain
  6. Saat membuat prototype, cakupan dan kompleksitas sistem dapat secara cepat melebar dari rencana awal, sehingga dapat menimbulkan out of control
  7. Prototyping sering menimbulkan performansi yang lebih lambat daripada 3GLs counterparts. Meski demikian, hal ini selanjutnya tidak menjadi masalah lagi.

Prototyping dapat secara cepat dikembangkan menggunakan berbagai 4GLs dan bahasa pemrograman yang object oriented. Desain dengan prototyping tidak dapat sepenuhnya memenuhi keperluan desain, prototype tidak selalu dapat menempatkan isu performansi yang penting dan konstrain storage. Protoype jarang menggabungkan kontro intenal. Para analis ataupun desainer nasih harus mengspesifikaikan hal ini.

Prototyping merupakan salah satu metode pengembangan perangat lunak yang banyak digunakan. Dengan metode prototyping ini pengembang dan pelanggan dapat saling berinteraksi selama proses pembuatan sistem. Sering terjadi seorang pelanggan hanya mendefinisikan secara umum apa yang dikehendakinya tanpa menyebutkan secara detail output, pemrosesan dan data-data apa saja yang dibutuhkan. Sebaliknya disisi pengembang kurang memperhatikan efesiensi algoritma, kemampuan sistem operasi dan interface yang menghubungkan manusia dan komputer. Untuk mengatasi ketidakserasian antara pelanggan dan pengembang, maka harus dibutuhkan kerjasama yang baik diantara keduanya sehingga pengembang akan mengetahui dengan benar apa yang diinginkan pelanggan dengan tidak mengesampingkan segi-segi teknis dan pelanggan akan mengetahui proses-proses dalam penyelesaian system yang diinginkan. Dengan demikian akan dihasilkan sistem yang sesuai dengan jadwal waktu penyelesaian yang telah ditentukan. Kunci agar model prototype ini berhasil dengan baik adalah dengan mendefinisikan aturan-aturan main pada saat awal, yaitu pelanggan dan pengembang harus setuju bahwa prototype dibangun untuk mendefinisikan kebutuhan. Prototype akan dihilangkan sebagian atau seluruhnya dan perangkat lunak aktual aktual direkayasa dengan kualitas dan implementasi yang sudah ditentukan.

Tahapan-tahapan dalam prototyping adalah sebagai berikut:

  1. 1. Evaluasi protoptyping

Evaluasi ini dilakukan oleh pelanggan apakah prototyping yang sudah dibangun dan disesuaikan dengan keinginann pelanggan. Jika sudah sesuai maka langkah 4 akan diambil. Jika tidak prototyping direvisi dengan mengulangi langkah 1, 2 , dan 3.

  1. 2. Mengkodekan system

Dalam tahap ini prototyping yang sudah di sepakati diterjemahkan ke dalam bahasa pemrograman yang sesuai.

  1. 3. Menguji system

Setelah sistem sudah menjadi suatu perangkat lunak yang siap pakai, harus dites dahulu sebelum digunakan. Pengujian ini dilakukan dengan White Box, Black Box,Basis Path, pengujian arsitektur dan lain-lain.

  1. 4. Evaluasi Sistem

Pelanggan mengevaluasi apakah sistem yang sudah jadi sudah sesuai dengan yang diharapkan.   Jika ya, langkah 7 dilakukan,  jika tidak, ulangi langkah 4 dan 5.

  1. 5. Menggunakan system

Perangkat lunak yang telah diuji dan diterima pelanggan siap untuk digunakan.

Keunggulan prototyping adalah:

1. Adanya komunikasi yang baik antara pengembang dan pelanggan

2. Pengembang dapat bekerja lebih baik dalam menentukan kebutuhan pelanggan

3. Pelanggan berperan aktif dalam pengembangan sistem

4. Lebih menghemat waktu dalam pengembangan sistem

5.Penerapan menjadi lebih mudah karena pemakai mengetahui apa yang diharapkannya.

Kelemahan prototyping adalah :

  1. Pelanggan kadang tidak melihat atau menyadari bahwa perangkat lunak yang ada belum mencantumkan kualitas perangkat lunak secara keseluruhan  dan juga belum memikirkan kemampuan pemeliharaan untuk jangka waktu lama.
  2. Pengembang biasanya ingin cepat menyelesaikan proyek. Sehingga menggunakan algoritma dan bahasa pemrograman yang sederhana untuk membuat prototyping lebih cepat selesai tanpa memikirkan lebih lanjut bahwa program tersebut hanya merupakan cetak biru system.
  3. Hubungan pelanggan dengan komputer yang disediakan mungkin tidak mencerminkan teknik    perancangan yang baik.

Prototyping bekerja dengan baik pada penerapan-penerapan yang berciri sebagai berikut:

  1. Resiko tinggi, yaitu untuk maslaha-masalah yang tidak terstruktur dengan baik, ada perubahan yang besar dari waktu ke waktu, dan adanya persyaratan data yang tidak menentu.
  2. Interaksi pemakai penting. Sistem harus menyediakan dialog on-line antara pelanggan dan komputer.
  3. Perlunya penyelesaian yang cepat
  4. Perilaku pemakai yang sulit ditebak
  5. Sistem yang inovatif. Sistem tersebut membutuhkan cara penyelesaian masalah dan penggunaan perangkat keras yang mutakhir.
  6. Perkiraan tahap penggunaan sistem yang pendek

Daya tarik  Prototyping

  1. Komunikasi antara analis sistem dan pemakai membaik
  2. Analis dapat bekerja dg lebih baik dlm menetukan kebutuhan pemakai
  3. Pemakai berperan lebih aktif dalam pengembangan sistem
  4. Spesialis informasi dan pemakai menghabiskan lebih sedikit waktu dan usaha alam mengembangkan sistem
  5. Penerapan menjadi lebih mudah karena pemakai mengetahui apa yg diharapkannya

Potensi  kegagalan Prototyping

  1. Ketergesaan untuk membuat prototipe mungkin menghasilkan jalan pintas untuk definisi permasalahan,evaluasi alternatif dan dokumentasi.
  2. Pemakai mungkin sangat tertarik dg prototipe tersebut sehingga mereka mengharapkan sesuatu yg tidak realistis dari sistem operasional.
  3. Prototipe type I mungkin tidak seefisien sistem yang dikodekan dalam bahasa pemrograman.
  4. Hubungan komputer-manusia yg disediakan oleh peralatan prototiping ttt mungkin tdk mencerminkan teknik perancangan yg baik.
Posted in Uncategorized | Comments Off on Perbedaan Pengembangan software dengan Sistem Informasi

IT outsourcing

Pendahuluan

Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan lingkungan bisnis yang rumit dan dinamis, Sistem informasi telah menjadi kebutuhan agar perusahaan senantiasa tetap memiliki daya saing. Hal ini dikarenakan perkembangan dunia bisnis saat ini yang menuntut kecepatan dan ketepatan data real time, yang dapat menunjang pengelolaan dan pengembangan bisnis yang bersangkutan.

Sistem informasi Manajemen adalah serangkaian sub sistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang telah ditetapkan.

Dengan kata lain SIM adalah sebagai suatu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai dengan kebutuhan yang serupa. Para pemakai biasanya membentuk suatu entitas organisasi formal, perusahaan atau sub unit dibawahnya. Informasi menjelaskan perusahaan atau salah satu sistem utamanya mengenai apa yang terjadi di masa lalu, apa yang terjadi sekarang dan apa yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Informasi tersebut tersedia dalam bentuk laporan periodik, laporan khusus dan ouput dari model matematika. Output informasi digunakan oleh manajer maupun non manajer dalam perusahaan saat mereka membuat keputusan untuk memecahkan masalah.

Perancangan, penerapan dan pengoperasian SIM merupakan fasilitas yang mahal dan sulit. Upaya dan biaya yang diperlukan harus dipertimbangkan dengan seksama. Ada beberapa faktor yang membuat SIM menjadi semakin diperlukan, antara lain bahwa manajer harus berhadapan dengan lingkungan bisnis yang kompleks. Salah satu alasan terjadinya kompleksitas tersebut karena semakin tingginya persaingan dan laju globalisasi serta pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Namun, meskipun sistem informasi merupakan fasilitas yang mahal terdapat beberapa alternatif  yang dapat dilakukan oleh perusahaan dengan keterbatasan sumber daya yang dimilikinya agar dapat melakukan penyusunan dan pengembangan sistem informasi, salah satunya melalui insourcing,cosourcing dan outsourcing sistem informasi. Akan tetapi, maraknya penggunaan outsourcing sistem informasi akhir-akhir ini, menyebabkan penulis ingin menguraikan lebih jauh mengenai kelebihan dan kelemahan penggunaan outsourcing sistem informasi di suatu perusahaan.

Pembahasan

Keunggulan dan Kelemahan Outsourcing

Pengembangan Sistem Informasi Ada banyak cara dalam mengembangkan sistem informasi, seperti insourcing, prototyping, pemakaian paket perangkat lunak, selfsourcing, dan outsourcing. Tabel 1 memberikan ringkasan tentang masing-masing pendekatan tersebut, disertai dengan kelemahan dan kelebihannya (Laudon & Laudon, 1998, hal. 427).

Tabel 1. Perbandingan berbagai pendekatan pengembangan Sl.

Pendekatan Fitur Kelebihan dan Kelemahan
SDLC
  • § Proses formal dilakukan tahap demi tahap secara berurutan
  • § Spesifikasi dan persetujuan dalam bentuk tertulis
  • § Peran pemakai terbatas
Kelebihan:

Perlu untuk sistem dan proyek yang kompleks.

Kelemahan:

• Pelan dan mahal

• Perubahan tidak dapat dilakukan dengan cepat

• Banyak kertas yang perlu dikelola

Prototyping
  • § Kebutuhan ditentukan secara dinamis melalui sistem percobaan
  • § Proses cepat, tidak formal, dan berulang
  • § Pemakai secara terus menerus berinteraksi dengan prototipe
Kelebihan:

• Cepat dan tak mahal

• Berguna manakala kebutuhan-kebutuhan tak menentu dan jika antarmuka pemakai-akhir merupakan hal yang penting

• Meningkatkan partisipasi pemakai

Kelemahan:

• Tak cocok untuk sistem yang kompleks dan besar

Paket Perangkat Lunak
  • Perangkat lunak komersial mengurangi kebutuhan internal untuk mengembangkan
Kelebihan:

• Mengurangi kerja untuk perancangan, pemrograman, instalasi, dan

Insourcing

Pada masa sekarang masih banyak perusahaan yang mengadakan sistem informasi dengan cara melakukan pengembangan sendiri atau yang dikenal dengan istilah insourcing. Pengembangan ini dilakukan oleh para spesialis sistem informasi yang berada dalam departemen EDP (Electronic Data Processing), IT (Information Technology), atau IS (Information System).

Cosourcing

Cosourcing merupakan model kerjasama yang mengkombinasikan pihak internal perusahaan dengan eksternal perusahaan. Bentuk kerjasama yang dilakukan adalah antara pihak eksternal, dalam hal ini adalah konsultan, dengan pihak internal / karyawan, dalam mengembangkan perangkat lunak aplikasi pada sistem dan teknologi informasi perusahaan. Model kerjasama tersebut dalam kaitannya dengan pengembangan sumber daya manusia sering disebut dengan strategic insourcing, dimana orang-orang konsultan bekerja bersama dalam satu team dengan karyawan perusahaan, saling bertukar pikiran, berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan diawal kerja sama.

Proses cosourcing ini memiliki berbagai kelebihan tersendiri, yakni:

  1. Pelaporan menjadi tepat waktu dan terpercaya karena dihasilkan oleh perusahaan sendiri.
  2. Sistem dan teknologi informasi telah terintegrasi dan sesuai dengan strategi korporat. Proses penciptaan pengetahuan pada perusahaan berjalan dengan baik.

Dari strategi sourcing yang telah dilakukan PT. X, terlihat bahwa perusahaan harus melakukan penyesuaian agar model sourcing yang dipilih tidak berbenturan dan sesuai dengan kondisi lingkungan bisnis, baik internal maupun eksternal. Manajemen harus bisa menganalisa sejak dini kebaikan dan keburukan proses sourcing yang dilakukannya, apakah telah sesuai dengan strategi dan misi perusahaan dan bagaimana dampaknya pada kinerja organisasi saat ini maupun dimasa yang akan datang.

Outsourcing

Dewasa ini terdapat pula kecenderungan untuk mengadakan sistem informasi melalui outsourcing. Outsourcing adalah pendelegasian terhadap suatu pekerjaan dalam sebuah organisasi ke pihak lain dengan jangka waktu tertentu, biaya tertentu, dan layanan tertentu. Bentuk outsourcing yang umum dilakukan pada perusahaan-perusahaan di Indonesia adalah dalam bidang layanan kebersihan ruangan. Dalam bidang teknologi informasi, beberapa bank di Indonesia telah menerapkan outsourcing. Dalam hal ini. pengembangan sistem dilakukan oleh perusahaan perangkat lunak.

Outsourcing merupakan sebuah proses subkontrak, misalnya seperti mendisain produk atau manufacture, yang dilakukan oleh pihak ketiga[1]. Keputusan untuk melakukan outsource biasanya dikarenakan untuk memperkecil biaya perusahaan, menghemat energi yang ditujukan pada kompetensi bisnis tertentu, atau untuk membuat penggunaan tenaga kerja, teknologi dan sumber daya di perusahaan lebih efisien, pengurangan resiko, perekayasaan ulang proses dan kesempatan untuk fokus pada kapabilitas inti

Pada prakteknya, outsourcing sistem informasi terkadang tidak hanya dalam hal pengembangan sistem, melainkan juga pada pengoperasiannya.

Terdapat 3 jenis outsourcing, yaitu:

  1. Strategic partnership

Pelaku outsurce bertanggungjawab untuk kumpulan integrasi dari operasi klien

  1. Aliansi cosourcing

Klien dan vendor berbagi tanggungjawab terhadap kesuksesan proyek

  1. Hubungan transaksi

Pelaku outsurce mengeksekusi TI yang didefinisikan dengan baik, repeatable atau TI pemungkin terlaksananya proses bisnis untuk klien

Gambar 1. Berbagai cara outsourcing

Gambar 2. Langkah-langkah dalam outsourcing

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Outsourcing

  1. Menentukan pengembang yang ditunjuk untuk membangun sistem informasi dengan hati-hati. Sebaiknya, pihak luar yang dipilih memang benar-benar telah berpengalaman
  2. Menandatangani kontrak. Kontrak dimaksudkan sebagai pengikat tanggung jawab dan dapat dijadikan sebagai pegangan dalam melanjutkan atau menghentikan proyek jika terjadi masalah selama masa pengembangan
  3. Merencanakan dan memonitor setiap langkah dalam pengembangan agar keberhasilan proyek benar-benar tercapai. Kontrol perlu diterapkan pada setiap aktivitas dengan maksud agar pemantauan dapat dilakukan dengan mudah
  4. Menjaga komunikasi yang efektif antara personil dalam perusahaan dengan pihak pengembang dengan tujuan agar tidak terjadi konflik atau hambatan selama proyek berlangsung
  5. Mengendalikan biaya dengan tepat dengan misalnya memperhatikan proporsi pembayaran berdasarkan persentasi tingkat penyelesaian proyek.

Outsourcing merupakan sebuah metode pengembangan SIM secara terpadu yang dikembangkan dan dikelola oleh pihak ketiga. Motode outsourcing ini menjadi pilihan karena memiliki kelebihan-kelebihan sebagai berikut :

Efficiency objectives

  1. Cost efficiency

Biaya teknologi yang semakin meningkat dan akan lebih murah jika perusahaan tidak berinvestasi lagi tetapi menyerahkan pada pihak ketiga dalam bentuk outsourcing yang terhitung lebih murah dibandingkan mengembangkan sendiri dikarenakan outsourcer menerima jasa dari perusahaan lainnya sehingga biaya tetap outsourcer dapat dibagi ke beberapa perusahaan yang memanfaatkan jasanya. Dapat digunakan untuk meningkatkan kas dalam aset perusahaan karena tak perlu ada aset untuk teknologi informasi

  1. Economies of scale.
  2. Variable capacity / expertise on demand, dengan diterapkannya sistem baru, maka perusahaan dapat menggunakannya sebagai salah satu point promosi.
  3. Mengurangi waktu proses karena beberapa outsourcer dapat dipilih lebih dari satu sekaligus untuk bekerja sama untuk menyediakan jasa ini kepada perusahaan.
  4. Jasa yang diberikan oleh outsourcer telah dikembangkan oleh para ahlinya
  5. Suatu perusahaan mungkin tidak mempunyai pengetahuan tentang sistem teknologi sedangkan outsourcer memilikinya
  6. Perusahaan merasa tidak perlu dan tidak ingin melakukan transfer teknologi dan tranfer pengetahuan yang dimiliki outsourcer.
  7. Meningkatkan fleksibilitas untuk melakukan atau tidak melakukan investasi
  8. Mengurangi resiko kegagalan investasi yang mahal

Arcitectural improvement

  1. Internal reengineering business process, dengan sistem ini bisnis proses di perusahaan sedikit di reengineering
  2. Meningkatkan disiplin bisnis proses, dengan menerapkan sistem ini ketersediaan informasi akan sangat penting. Sehingga hampir semua operator data bekerja lebih disiplin dalam mempercepat proses selanjutnya.

Strategis adaptation

  1. Management focus pada competensi atau Focus on unique core competencies.

Dengan outsourcing layanan ini, personil management akan lebih berkonsentrasi pada proses bisnis utama perusahaan atau memfokuskan pada pekerjaan lain yang lebih penting.

  1. Leverage new IT
  2. Mitigate technology risk.

Dengan melakukan oursourcing, tanggungjawab penyelenggaraan layanan adalah pada operator. Sehingga resiko kegagalan penyelenggaraan adalah sedikit.

  1. Exploit the intellect of another organization.

Mendapatkan kepakaran yang lebih baik dan teknologi yang lebih maju

  1. 5. Better predict future costs.
  2. 6. Acquire leading-edge technology.
  3. Improve performance accountability.
  4. Menyingkat waktu pengembangan
  5. Menghilangkan penyediaan sarana saat beban puncak terjadi (yakni ketika terjadi masa-masa pembeli membanjir) dan cukup melakukan pengeluaran biaya sesuai dengan tambahan layanan yang diberikan oleh pihak luar
    1. Memfasilitasi downsizing, sehingga perusahaan tak perlu memikirkan pengurangan pegawai

Diantara banyak kelebihan outsourcing, terdapat kekurangan-kekurangan,yaitu:

  1. Reduces technical know-how for future innovation.
  2. Reduces degree of control.
  3. Increases vulnerability of strategic information.
  4. Increases dependency on other organizations.
  5. Contract problems.
  6. Kehilangan kendali terhadap sistem dan data karena bisa saja pihak outsourcer menjual data ke pesaing
  7. Mengurangi keunggulan kompetitif karena pihak outsourcer tidak dapat diharapkan untuk menyediakannya karena juga harus memikirkan klien lain
  8. Menjadi sangat bergantung pada pihak luar sehingga sangat sulit bagi perusahaan untuk mengambil alih kembali sistem yang sedang berjalan

Sedangkan paket-paket aplikasi yang terintegrasi dalam sebuah metode outsourcing biasa disebut ERP (Enterprise Resources Planning), suatu perangkat lunak atau software dengan aplikasi yang terintegrasi dengan baik untuk digunakan secara luas dalam organisasi bisnis. Termasuk di dalamnya TPS (Transaction Processing System) ditambah dengan sistem-sistem informasi fungsional yang terintegrasi. Aplikasi-aplikasi yang terintegrasi itu biasanya dapat digolongkan dalam fungsi-fungsi akuntansi, keuangan, sumber daya manusia, pemasaran, logistik dan lainnya. Aplikasi yang menyangkut fungsi akuntansi biasanya modul buku besar, piutang dagang, hutang dagang, aktiva tetap, manajemen kas dan akuntansi. Fungsi keuangan dikelola oleh modul analisis portofolio, analisis resiko, analisis kredit, manajemen aktiva, sewa guna dll. Aplikasi ERP untuk fungsi SDM diantaranya rekruitmen, penggajian, manajemen personil, pengembangan karyawan dan manajemen kompensasi serta lainnya. Dibudang pemasaran meliputi manajemen relasi pelanggan, pemasukkan order dan pemrosesan order dll. Sedangkan ERP dibidang logistik biasanya perencanaan produksi, menejemen material dan manajemen pabrik.

ERP berbeda dengan paket-paket komersial lainnya. Perbedaannya antara lain :

  1. Modul-modul ERP terintegrasi lewat basis data yang umum. Sebagai misalnya, jika terjadi transaksi order penjualan di suatu tempat, maka hasil dari transaksi ini akan langsung berakibat di basis data untuk modul yang lainnya, misalnya modul akuntansi, logistik, pengiriman dll
  2. Modul-modul ERP dirancang sesuai dengan proses bisnis yang mengikuti proses rantai nilai (value chain) atau rantai penyediaan (supply chain) yaitu aktivitas mulai dari logistik bahan mentah, produksi, logistik bahan jadi, penjualan dan pemasaran dan sebagainya. Dengan kata lain modul ERP dirancang mengikuti proses bisnis dari hulu hingga hilir.

Manfaat ERP menurut penelitian terakhir yang dilakukan oleh Martin (et al., 2002) menunjukkan adanya 6 (enam) keuntungan dengan menerapkan paket ERP. 3 (tiga) keuntungan berhubungan dengan masalah bisnis, 2 (dua) berhubungan dengan STI dan 1 (satu) berhubungan baik bisnis maupun SIM.

Tiga keuntungan yang berhubungan dengan masalah bisnis antara lain

  1. Integrasi data yang menyebabkan akses data ke unit bisnis lain, fungsi-sungsi lain, proses-proses dan organisasi meningkat.
  2. Menyediakan cara lain untuk melakukan bisnis yaitu lewat rekayasa proses bisnis (business process reengineering) menuju ke orientasi proses dan pengurangan biaya proses bisnis.
  3. Menyediakan kemampuan global dengan menyediakan globalisasi lewat proses bisnis yang umum dan kelas dunia yang berstandar internasional.

Kedua keuntungan yang berkaitan dengan SIM :

  1. Manfaat menerapkan paket yang sudah jadi bukan membangunnya dari bawah. Manfaat yang diperoleh adalan manfaat waktu yang lebih cepat, biaya yang relatif murah dan kemampuan dari paket.
  2. Memanfaatkan arsitektur teknologi informasi yang digunakan yang dapat menghemat biaya

Sedangkan sebuah manfaat bagi bisnis dan SIM adalah fleksibilitas menggunakan teknologi client server yang mudah dikembangkan sesuai dengan pertumbuhan bisnis.

Penelitan yang dilakukan oleh Martin et al. (2002) membagi 2 (dua) tujuan organisasi menerapkan ERP :

  1. Untuk menerapkan aktivitas mata rantai proses bisnis dari hulu hingga hilir dalam satu kesatuan yang terintegrasi dengan baik.
  2. Untuk mendukung aktivitas bisnis fungsional meliputi proses-proses akuntansi, keuangan, sumber daya manusia dan fungsi-fungsi lainnya.

Pada saat ini ada beberapa penjual jasa outsourcing lengkap dengan ERP-nya antara lain Oracle, SAP (Systemabalyse und Programmentwicklung), Baan, J.D. Edwards, IFS (Industrial and Financial System), Peoplesoft dan lain-lain. Untuk saat ini Oracle dan SAP adalah yang paling banyak dipakai di dunia. Outsourcing dan ERP-nya cukup fleksibel dalam masalah pengelolaannya. Ada 4 (empat) alternatif pengelolaan outsourcing, yaitu:

  1. Buy-In (Beli ERP dikelola internal), yaitu outsourcer menyediakan sumberdaya SIM seperti pemogram komputer namun untuk pengelolaan kegiatan-kegiatan SIM masih dikerjakan di departemen IT secara internal. Departemen IT internal ini bertanggungjawab menyediakan hasilnya. Hubungan kerjasama antara perusahaan dengan outsourcer biasanya hanya hubungan bisnis berjangka pendek.
  2. Prefferred Supplier (Pemasok terpilih), sama seperti buy-in, namun hubungan bisnis antara perusahaan dan outsourcer berjangka panjang.
  3. Contract-Out (kontrak penuh), yaitu outsourcer menyediakan sumber-sumber daya SIM semacam pemogram komputer, mengelola kegiatan-kegiatan SIM dan bertanggung jawab menyediakan hasilnya.
  4. Prefferred Contractor (Kontraktor terpilih),yaitu perusahaan dan outsourcer membangun kerjasama jangka panjang.

Sedangkan hambatan-hambatan yang bisa muncul saat mengembangkan metode outsourcing dengan paket ERP-nya antara lain :

  1. Implementasi ERP bukan hal yang bisa dianggap enteng dan organisasi harus merubah cara mereka berbisnis. Hal tersebut mungkin akan bertambah sulit dengan adanya resistance to change dari personil yang terkena imbasnya akibat perubahan proses bisnis.
  2. Biaya Implementasi ERP yang cukup mahal dan tidak semua organisasi bisnis sanggup menanggungnya.
  3. Permasalahan kesiapan para personil yang mungkin kurang dari segi mental maupun keahliannya.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, maka di dalam menggunakan berbagai cara SIM baik itu insourcing, cosourcing maupun outsourcing maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Penggunaan SIM harus digunakan secara tepat, dengan mempertimbangkan aspek waktu dan biaya secara seimbang.
  2. Keberhasilan SIM yang dikembangkan, ditentukan oleh keterlibatan end user.
  3. Dalam memilih metode SIM yang tepat harus disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan perusahaan.
  4. Perusahaan harus terlebih dahulu merumuskan konsep dasar keinginan perusahaan mengenai SIM yang diharapkan
  5. Dalam menghadapi berbagai tekanan baik dari pihak eksternal maupun internal SIM memberikan kontribusi yang signifikan. Dalam menghadapi situasi seperti ini, perusahaan harus dapat mengelola berbagai sumber daya yang dimilikinya dengan seefektif dan seefisien mungkin, selain itu mereka juga harus menunjukan kinerja yang lebih baik dari perusahaan sebelumnya dan indikator yang jelas adalah perbaikan kualitas produk yang dapat dirasakan dalam waktu singkat.
  6. Dari strategi sourcing yang ada perusahaan harus melakukan penyesuaian agar model sourcing yang dipilih tidak berbenturan dan sesuai dengan kondisi lingkungan bisnis, baik internal maupun eksternal.
  7. Manajemen harus bisa menganalisa sejak dini kebaikan dan keburukan proses sourcing yang dilakukannya, apakah telah sesuai dengan strategi dan misi perusahaan dan bagaimana dampaknya pada kinerja organisasi saat ini maupun dimasa yang akan datang.

Daftar Pustaka

1.       Kendal & Kendal. Systems Analysis and Design Fifth Edition. Prentice-Hall International, Inc. 2002.

2.       Jeffrey A. Hoffer, Joey F. George, Joseph S. Valacich. Modern Systems Analysis and Design Second Edition. Addison- Wesley. 1997.

3.       Jeffrey L. Whitten, Lonnie D. Bentley, Kevin C. Dittman. Systems Analysis and Design Methods. McGraw-Hill. 2001.

4.       Ramez El Masri, Shamkant B. Navache. Fundamental of Database Systems. The Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc. 1994.

5.       Raymond McLeod, George Schell. Management Information Systems 8th ed. Prentice-Hall, Inc. 2004.

6.       Laudon, J. and Laudon, K. 2006 Management Information Systems: Managing the Digital Firm (10th Edition). Prentice-Hall, Inc.

Posted in Uncategorized | Comments Off on IT outsourcing

Outsourcing Sistem Informasi

BAB I

Pendahuluan

Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan lingkungan bisnis yang rumit dan dinamis, Sistem informasi telah menjadi kebutuhan agar perusahaan senantiasa tetap memiliki daya saing. Hal ini dikarenakan perkembangan dunia bisnis saat ini yang menuntut kecepatan dan ketepatan data real time, yang dapat menunjang pengelolaan dan pengembangan bisnis yang bersangkutan.

Sistem informasi Manajemen adalah serangkaian sub sistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang telah ditetapkan.

Dengan kata lain SIM adalah sebagai suatu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai dengan kebutuhan yang serupa. Para pemakai biasanya membentuk suatu entitas organisasi formal, perusahaan atau sub unit dibawahnya. Informasi menjelaskan perusahaan atau salah satu sistem utamanya mengenai apa yang terjadi di masa lalu, apa yang terjadi sekarang dan apa yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Informasi tersebut tersedia dalam bentuk laporan periodik, laporan khusus dan ouput dari model matematika. Output informasi digunakan oleh manajer maupun non manajer dalam perusahaan saat mereka membuat keputusan untuk memecahkan masalah.

Perancangan, penerapan dan pengoperasian SIM merupakan fasilitas yang mahal dan sulit. Upaya dan biaya yang diperlukan harus dipertimbangkan dengan seksama. Ada beberapa faktor yang membuat SIM menjadi semakin diperlukan, antara lain bahwa manajer harus berhadapan dengan lingkungan bisnis yang kompleks. Salah satu alasan terjadinya kompleksitas tersebut karena semakin tingginya persaingan dan laju globalisasi serta pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Namun, meskipun sistem informasi merupakan fasilitas yang mahal terdapat beberapa alternatif  yang dapat dilakukan oleh perusahaan dengan keterbatasan sumber daya yang dimilikinya agar dapat melakukan penyusunan dan pengembangan sistem informasi, salah satunya melalui insourcing,cosourcing dan outsourcing sistem informasi. Akan tetapi, maraknya penggunaan outsourcing sistem informasi akhir-akhir ini, menyebabkan penulis ingin menguraikan lebih jauh mengenai kelebihan dan kelemahan penggunaan outsourcing sistem informasi di suatu perusahaan.

BAB II

Pembahasan

Keunggulan dan Kelemahan Outsourcing

Pengembangan Sistem Informasi Ada banyak cara dalam mengembangkan sistem informasi, seperti insourcing, prototyping, pemakaian paket perangkat lunak, selfsourcing, dan outsourcing. Tabel 1 memberikan ringkasan tentang masing-masing pendekatan tersebut, disertai dengan kelemahan dan kelebihannya (Laudon & Laudon, 1998, hal. 427).

Tabel 1. Perbandingan berbagai pendekatan pengembangan Sl.

Pendekatan Fitur Kelebihan dan Kelemahan
SDLC
  • § Proses formal dilakukan tahap demi tahap secara berurutan
  • § Spesifikasi dan persetujuan dalam bentuk tertulis
  • § Peran pemakai terbatas
Kelebihan:

Perlu untuk sistem dan proyek yang kompleks.

Kelemahan:

• Pelan dan mahal

• Perubahan tidak dapat dilakukan dengan cepat

• Banyak kertas yang perlu dikelola

Prototyping
  • § Kebutuhan ditentukan secara dinamis melalui sistem percobaan
  • § Proses cepat, tidak formal, dan berulang
  • § Pemakai secara terus menerus berinteraksi dengan prototipe
Kelebihan:

• Cepat dan tak mahal

• Berguna manakala kebutuhan-kebutuhan tak menentu dan jika antarmuka pemakai-akhir merupakan hal yang penting

• Meningkatkan partisipasi pemakai

Kelemahan:

• Tak cocok untuk sistem yang kompleks dan besar

Paket Perangkat Lunak
  • Perangkat lunak komersial mengurangi kebutuhan internal untuk mengembangkan
Kelebihan:

• Mengurangi kerja untuk perancangan, pemrograman, instalasi, dan

Insourcing

Pada masa sekarang masih banyak perusahaan yang mengadakan sistem informasi dengan cara melakukan pengembangan sendiri atau yang dikenal dengan istilah insourcing. Pengembangan ini dilakukan oleh para spesialis sistem informasi yang berada dalam departemen EDP (Electronic Data Processing), IT (Information Technology), atau IS (Information System).

Cosourcing

Cosourcing merupakan model kerjasama yang mengkombinasikan pihak internal perusahaan dengan eksternal perusahaan. Bentuk kerjasama yang dilakukan adalah antara pihak eksternal, dalam hal ini adalah konsultan, dengan pihak internal / karyawan, dalam mengembangkan perangkat lunak aplikasi pada sistem dan teknologi informasi perusahaan. Model kerjasama tersebut dalam kaitannya dengan pengembangan sumber daya manusia sering disebut dengan strategic insourcing, dimana orang-orang konsultan bekerja bersama dalam satu team dengan karyawan perusahaan, saling bertukar pikiran, berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan diawal kerja sama.

Proses cosourcing ini memiliki berbagai kelebihan tersendiri, yakni:

  1. Pelaporan menjadi tepat waktu dan terpercaya karena dihasilkan oleh perusahaan sendiri.
  2. Sistem dan teknologi informasi telah terintegrasi dan sesuai dengan strategi korporat. Proses penciptaan pengetahuan pada perusahaan berjalan dengan baik.

Dari strategi sourcing yang telah dilakukan PT. X, terlihat bahwa perusahaan harus melakukan penyesuaian agar model sourcing yang dipilih tidak berbenturan dan sesuai dengan kondisi lingkungan bisnis, baik internal maupun eksternal. Manajemen harus bisa menganalisa sejak dini kebaikan dan keburukan proses sourcing yang dilakukannya, apakah telah sesuai dengan strategi dan misi perusahaan dan bagaimana dampaknya pada kinerja organisasi saat ini maupun dimasa yang akan datang.

Outsourcing

Dewasa ini terdapat pula kecenderungan untuk mengadakan sistem informasi melalui outsourcing. Outsourcing adalah pendelegasian terhadap suatu pekerjaan dalam sebuah organisasi ke pihak lain dengan jangka waktu tertentu, biaya tertentu, dan layanan tertentu. Bentuk outsourcing yang umum dilakukan pada perusahaan-perusahaan di Indonesia adalah dalam bidang layanan kebersihan ruangan. Dalam bidang teknologi informasi, beberapa bank di Indonesia telah menerapkan outsourcing. Dalam hal ini. pengembangan sistem dilakukan oleh perusahaan perangkat lunak.

Outsourcing merupakan sebuah proses subkontrak, misalnya seperti mendisain produk atau manufacture, yang dilakukan oleh pihak ketiga[1]. Keputusan untuk melakukan outsource biasanya dikarenakan untuk memperkecil biaya perusahaan, menghemat energi yang ditujukan pada kompetensi bisnis tertentu, atau untuk membuat penggunaan tenaga kerja, teknologi dan sumber daya di perusahaan lebih efisien, pengurangan resiko, perekayasaan ulang proses dan kesempatan untuk fokus pada kapabilitas inti

Pada prakteknya, outsourcing sistem informasi terkadang tidak hanya dalam hal pengembangan sistem, melainkan juga pada pengoperasiannya.

Terdapat 3 jenis outsourcing, yaitu:

  1. Strategic partnership

Pelaku outsurce bertanggungjawab untuk kumpulan integrasi dari operasi klien

  1. Aliansi cosourcing

Klien dan vendor berbagi tanggungjawab terhadap kesuksesan proyek

  1. Hubungan transaksi

Pelaku outsurce mengeksekusi TI yang didefinisikan dengan baik, repeatable atau TI pemungkin terlaksananya proses bisnis untuk klien

Gambar 1. Berbagai cara outsourcing

Gambar 2. Langkah-langkah dalam outsourcing

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Outsourcing

  1. Menentukan pengembang yang ditunjuk untuk membangun sistem informasi dengan hati-hati. Sebaiknya, pihak luar yang dipilih memang benar-benar telah berpengalaman
  2. Menandatangani kontrak. Kontrak dimaksudkan sebagai pengikat tanggung jawab dan dapat dijadikan sebagai pegangan dalam melanjutkan atau menghentikan proyek jika terjadi masalah selama masa pengembangan
  3. Merencanakan dan memonitor setiap langkah dalam pengembangan agar keberhasilan proyek benar-benar tercapai. Kontrol perlu diterapkan pada setiap aktivitas dengan maksud agar pemantauan dapat dilakukan dengan mudah
  4. Menjaga komunikasi yang efektif antara personil dalam perusahaan dengan pihak pengembang dengan tujuan agar tidak terjadi konflik atau hambatan selama proyek berlangsung
  5. Mengendalikan biaya dengan tepat dengan misalnya memperhatikan proporsi pembayaran berdasarkan persentasi tingkat penyelesaian proyek.

Outsourcing merupakan sebuah metode pengembangan SIM secara terpadu yang dikembangkan dan dikelola oleh pihak ketiga. Motode outsourcing ini menjadi pilihan karena memiliki kelebihan-kelebihan sebagai berikut :

Efficiency objectives

  1. Cost efficiency

Biaya teknologi yang semakin meningkat dan akan lebih murah jika perusahaan tidak berinvestasi lagi tetapi menyerahkan pada pihak ketiga dalam bentuk outsourcing yang terhitung lebih murah dibandingkan mengembangkan sendiri dikarenakan outsourcer menerima jasa dari perusahaan lainnya sehingga biaya tetap outsourcer dapat dibagi ke beberapa perusahaan yang memanfaatkan jasanya. Dapat digunakan untuk meningkatkan kas dalam aset perusahaan karena tak perlu ada aset untuk teknologi informasi

  1. Economies of scale.
  2. Variable capacity / expertise on demand, dengan diterapkannya sistem baru, maka perusahaan dapat menggunakannya sebagai salah satu point promosi.
  3. Mengurangi waktu proses karena beberapa outsourcer dapat dipilih lebih dari satu sekaligus untuk bekerja sama untuk menyediakan jasa ini kepada perusahaan.
  4. Jasa yang diberikan oleh outsourcer telah dikembangkan oleh para ahlinya
  5. Suatu perusahaan mungkin tidak mempunyai pengetahuan tentang sistem teknologi sedangkan outsourcer memilikinya
  6. Perusahaan merasa tidak perlu dan tidak ingin melakukan transfer teknologi dan tranfer pengetahuan yang dimiliki outsourcer.
  7. Meningkatkan fleksibilitas untuk melakukan atau tidak melakukan investasi
  8. Mengurangi resiko kegagalan investasi yang mahal

Arcitectural improvement

  1. Internal reengineering business process, dengan sistem ini bisnis proses di perusahaan sedikit di reengineering
  2. Meningkatkan disiplin bisnis proses, dengan menerapkan sistem ini ketersediaan informasi akan sangat penting. Sehingga hampir semua operator data bekerja lebih disiplin dalam mempercepat proses selanjutnya.

Strategis adaptation

  1. Management focus pada competensi atau Focus on unique core competencies.

Dengan outsourcing layanan ini, personil management akan lebih berkonsentrasi pada proses bisnis utama perusahaan atau memfokuskan pada pekerjaan lain yang lebih penting.

  1. Leverage new IT
  2. Mitigate technology risk.

Dengan melakukan oursourcing, tanggungjawab penyelenggaraan layanan adalah pada operator. Sehingga resiko kegagalan penyelenggaraan adalah sedikit.

  1. Exploit the intellect of another organization.

Mendapatkan kepakaran yang lebih baik dan teknologi yang lebih maju

  1. 5. Better predict future costs.
  2. 6. Acquire leading-edge technology.
  3. Improve performance accountability.
  4. Menyingkat waktu pengembangan
  5. Menghilangkan penyediaan sarana saat beban puncak terjadi (yakni ketika terjadi masa-masa pembeli membanjir) dan cukup melakukan pengeluaran biaya sesuai dengan tambahan layanan yang diberikan oleh pihak luar
    1. Memfasilitasi downsizing, sehingga perusahaan tak perlu memikirkan pengurangan pegawai

Diantara banyak kelebihan outsourcing, terdapat kekurangan-kekurangan,yaitu:

  1. Reduces technical know-how for future innovation.
  2. Reduces degree of control.
  3. Increases vulnerability of strategic information.
  4. Increases dependency on other organizations.
  5. Contract problems.
  6. Kehilangan kendali terhadap sistem dan data karena bisa saja pihak outsourcer menjual data ke pesaing
  7. Mengurangi keunggulan kompetitif karena pihak outsourcer tidak dapat diharapkan untuk menyediakannya karena juga harus memikirkan klien lain
  8. Menjadi sangat bergantung pada pihak luar sehingga sangat sulit bagi perusahaan untuk mengambil alih kembali sistem yang sedang berjalan

Sedangkan paket-paket aplikasi yang terintegrasi dalam sebuah metode outsourcing biasa disebut ERP (Enterprise Resources Planning), suatu perangkat lunak atau software dengan aplikasi yang terintegrasi dengan baik untuk digunakan secara luas dalam organisasi bisnis. Termasuk di dalamnya TPS (Transaction Processing System) ditambah dengan sistem-sistem informasi fungsional yang terintegrasi. Aplikasi-aplikasi yang terintegrasi itu biasanya dapat digolongkan dalam fungsi-fungsi akuntansi, keuangan, sumber daya manusia, pemasaran, logistik dan lainnya. Aplikasi yang menyangkut fungsi akuntansi biasanya modul buku besar, piutang dagang, hutang dagang, aktiva tetap, manajemen kas dan akuntansi. Fungsi keuangan dikelola oleh modul analisis portofolio, analisis resiko, analisis kredit, manajemen aktiva, sewa guna dll. Aplikasi ERP untuk fungsi SDM diantaranya rekruitmen, penggajian, manajemen personil, pengembangan karyawan dan manajemen kompensasi serta lainnya. Dibudang pemasaran meliputi manajemen relasi pelanggan, pemasukkan order dan pemrosesan order dll. Sedangkan ERP dibidang logistik biasanya perencanaan produksi, menejemen material dan manajemen pabrik.

ERP berbeda dengan paket-paket komersial lainnya. Perbedaannya antara lain :

  1. Modul-modul ERP terintegrasi lewat basis data yang umum. Sebagai misalnya, jika terjadi transaksi order penjualan di suatu tempat, maka hasil dari transaksi ini akan langsung berakibat di basis data untuk modul yang lainnya, misalnya modul akuntansi, logistik, pengiriman dll
  2. Modul-modul ERP dirancang sesuai dengan proses bisnis yang mengikuti proses rantai nilai (value chain) atau rantai penyediaan (supply chain) yaitu aktivitas mulai dari logistik bahan mentah, produksi, logistik bahan jadi, penjualan dan pemasaran dan sebagainya. Dengan kata lain modul ERP dirancang mengikuti proses bisnis dari hulu hingga hilir.

Manfaat ERP menurut penelitian terakhir yang dilakukan oleh Martin (et al., 2002) menunjukkan adanya 6 (enam) keuntungan dengan menerapkan paket ERP. 3 (tiga) keuntungan berhubungan dengan masalah bisnis, 2 (dua) berhubungan dengan STI dan 1 (satu) berhubungan baik bisnis maupun SIM.

Tiga keuntungan yang berhubungan dengan masalah bisnis antara lain

  1. Integrasi data yang menyebabkan akses data ke unit bisnis lain, fungsi-sungsi lain, proses-proses dan organisasi meningkat.
  2. Menyediakan cara lain untuk melakukan bisnis yaitu lewat rekayasa proses bisnis (business process reengineering) menuju ke orientasi proses dan pengurangan biaya proses bisnis.
  3. Menyediakan kemampuan global dengan menyediakan globalisasi lewat proses bisnis yang umum dan kelas dunia yang berstandar internasional.

Kedua keuntungan yang berkaitan dengan SIM :

  1. Manfaat menerapkan paket yang sudah jadi bukan membangunnya dari bawah. Manfaat yang diperoleh adalan manfaat waktu yang lebih cepat, biaya yang relatif murah dan kemampuan dari paket.
  2. Memanfaatkan arsitektur teknologi informasi yang digunakan yang dapat menghemat biaya

Sedangkan sebuah manfaat bagi bisnis dan SIM adalah fleksibilitas menggunakan teknologi client server yang mudah dikembangkan sesuai dengan pertumbuhan bisnis.

Penelitan yang dilakukan oleh Martin et al. (2002) membagi 2 (dua) tujuan organisasi menerapkan ERP :

  1. Untuk menerapkan aktivitas mata rantai proses bisnis dari hulu hingga hilir dalam satu kesatuan yang terintegrasi dengan baik.
  2. Untuk mendukung aktivitas bisnis fungsional meliputi proses-proses akuntansi, keuangan, sumber daya manusia dan fungsi-fungsi lainnya.

Pada saat ini ada beberapa penjual jasa outsourcing lengkap dengan ERP-nya antara lain Oracle, SAP (Systemabalyse und Programmentwicklung), Baan, J.D. Edwards, IFS (Industrial and Financial System), Peoplesoft dan lain-lain. Untuk saat ini Oracle dan SAP adalah yang paling banyak dipakai di dunia. Outsourcing dan ERP-nya cukup fleksibel dalam masalah pengelolaannya. Ada 4 (empat) alternatif pengelolaan outsourcing, yaitu:

  1. Buy-In (Beli ERP dikelola internal), yaitu outsourcer menyediakan sumberdaya SIM seperti pemogram komputer namun untuk pengelolaan kegiatan-kegiatan SIM masih dikerjakan di departemen IT secara internal. Departemen IT internal ini bertanggungjawab menyediakan hasilnya. Hubungan kerjasama antara perusahaan dengan outsourcer biasanya hanya hubungan bisnis berjangka pendek.
  2. Prefferred Supplier (Pemasok terpilih), sama seperti buy-in, namun hubungan bisnis antara perusahaan dan outsourcer berjangka panjang.
  3. Contract-Out (kontrak penuh), yaitu outsourcer menyediakan sumber-sumber daya SIM semacam pemogram komputer, mengelola kegiatan-kegiatan SIM dan bertanggung jawab menyediakan hasilnya.
  4. Prefferred Contractor (Kontraktor terpilih),yaitu perusahaan dan outsourcer membangun kerjasama jangka panjang.

Sedangkan hambatan-hambatan yang bisa muncul saat mengembangkan metode outsourcing dengan paket ERP-nya antara lain :

  1. Implementasi ERP bukan hal yang bisa dianggap enteng dan organisasi harus merubah cara mereka berbisnis. Hal tersebut mungkin akan bertambah sulit dengan adanya resistance to change dari personil yang terkena imbasnya akibat perubahan proses bisnis.
  2. Biaya Implementasi ERP yang cukup mahal dan tidak semua organisasi bisnis sanggup menanggungnya.
  3. Permasalahan kesiapan para personil yang mungkin kurang dari segi mental maupun keahliannya.

BAB III

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, maka di dalam menggunakan berbagai cara SIM baik itu insourcing, cosourcing maupun outsourcing maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Penggunaan SIM harus digunakan secara tepat, dengan mempertimbangkan aspek waktu dan biaya secara seimbang.
  2. Keberhasilan SIM yang dikembangkan, ditentukan oleh keterlibatan end user.
  3. Dalam memilih metode SIM yang tepat harus disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan perusahaan.
  4. Perusahaan harus terlebih dahulu merumuskan konsep dasar keinginan perusahaan mengenai SIM yang diharapkan
  5. Dalam menghadapi berbagai tekanan baik dari pihak eksternal maupun internal SIM memberikan kontribusi yang signifikan. Dalam menghadapi situasi seperti ini, perusahaan harus dapat mengelola berbagai sumber daya yang dimilikinya dengan seefektif dan seefisien mungkin, selain itu mereka juga harus menunjukan kinerja yang lebih baik dari perusahaan sebelumnya dan indikator yang jelas adalah perbaikan kualitas produk yang dapat dirasakan dalam waktu singkat.
  6. Dari strategi sourcing yang ada perusahaan harus melakukan penyesuaian agar model sourcing yang dipilih tidak berbenturan dan sesuai dengan kondisi lingkungan bisnis, baik internal maupun eksternal.
  7. Manajemen harus bisa menganalisa sejak dini kebaikan dan keburukan proses sourcing yang dilakukannya, apakah telah sesuai dengan strategi dan misi perusahaan dan bagaimana dampaknya pada kinerja organisasi saat ini maupun dimasa yang akan datang.

BAB IV

Daftar Pustaka

1.       Kendal & Kendal. Systems Analysis and Design Fifth Edition. Prentice-Hall International, Inc. 2002.

2.       Jeffrey A. Hoffer, Joey F. George, Joseph S. Valacich. Modern Systems Analysis and Design Second Edition. Addison- Wesley. 1997.

3.       Jeffrey L. Whitten, Lonnie D. Bentley, Kevin C. Dittman. Systems Analysis and Design Methods. McGraw-Hill. 2001.

4.       Ramez El Masri, Shamkant B. Navache. Fundamental of Database Systems. The Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc. 1994.

5.       Raymond McLeod, George Schell. Management Information Systems 8th ed. Prentice-Hall, Inc. 2004.

6.       Laudon, J. and Laudon, K. 2006 Management Information Systems: Managing the Digital Firm (10th Edition). Prentice-Hall, Inc.

Posted in Uncategorized | Comments Off on Outsourcing Sistem Informasi

Hello world!

Welcome to Student.mb.ipb.ac.id Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging! Url your blog Student.mb.ipb.ac.id Blogs

Posted in Uncategorized | 1 Comment